وسُئل الشيخ محمد بن إبراهيم، في رسائله وفتاويه:
"هل تجب الهجرة من بلاد المسلمين، التي يُحكم فيها بالقانون؟!
فأجاب:
البلد التي يُحكم فيها بالقانون؛ ليست بلدَ إسلام، وتجِبُ الهجرة منها".
- مَن كان له مَظلمة عند غيره؛ فليَتق اللهَ ربَّه، وليتحاكم إلى شرع الله، حيث كان، فإن لم يجد محاكمَ شرعية؛ فليأتِ أهلَ العلم الربَّانيين في بَلده، وليُحكّمهم في مَظلمته، فإن لم يجد، وكانت المَظلمة في أمرٍ عظيم؛ لا يستطيع معه الصبر، بل ربَّما جرَّ الصبرُ إلى إفسادٍ أعظم، ولَم يجد سبيلًا إلا المَحاكم الوضعية؛ فقد رخَّصَ فيها بعض أهل العلم بشروط:
الأول: أن يكون كارِهًا لذلك، مُبغِضًا له، مُظهِرًا الإنكار، مُعلِنًا الضرورة.
الثاني: ألا يأخذ أكثر من حقّه، فلَه حقُّ مظلمتِه فقط.
الثالث: أن يقصد ردَّ المظلمة لا إجراء العقوبة، طالما أنها مُخالفة للشرع.
الرابع: أن يكون مُكرَهًا، أو مُضطرًّا، ولا سبيل إلا ذلك
.
Syeikh Muhammad bin Ibrahim di dalam Risalah beliau dan fatwanya.
"Apakah wajib hijroh dari negara muslimin yang negara itu berundang undang dengan buatan manusia (yang menyelisihi hukum Islam)?!
jawab :
" Negara yang mengunakan undang-undang/hukum buatan, bukanlah negara Islam dan wajib hijrah darinya"
" Barang siapa yang di dholimi seseorang di negara itu maka hendaknya ia bertaqwa kepada Allah dan berhukum dengan hukum Allah semampunya, jika tidak mendapatkan peradilan Islam hendaknya dia datang kepada ulama' Robbany di negara itu untuk memutuskan perkaranya, dan jika tidak mendapatkan ulama' Robbany sedangkan kedholiman itu sangat berbahaya/ perkara yang besar, yang kadang tidak bisa seseorang untuk bersabar ,bahkan bisa juga kalau ia bersabar akan timbul perkara yang lebih besar . dan kalau dia tidak mendapatkan jalan lain kecuali memutuskan perkaranya dengan hukum kafir , sebagian ahlul Ilmi memberikan keringanan( membolehkan ) dengan syarat :
1. Dia tetap membenci dg hukum itu dan menampakkan pengingkarannya
2. Tidak boleh mengambil lebih dari haknya
3. Hanya bermaksud untuk mengambil hak bukan menghukum si dholim karena hukumnya menyelisihi kumun Allah
4. Karena terpaksa tidak ada jalan lain
Waallahu A'lam
Kamis, 08 Desember 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar 10-12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar