Akal harus tunduk kepada wahyu Allah Azza Wajalla
Akal yang mampu menalar dengan baik dan tepat adalah anugerah Allah
yang tak ternilai harganya. Akal yang tajam dapat mengantarkan seseorang
ke derajat yang sangat tinggi: menjadi seorang alim mujtahid yang
memberikan pencerahan kepada orang-orang yang datang dan menanyakan
berbagai persoalan kepadanya. Jika seorang alim mujtahid menalar perkara
yang disodorkan kepadanya, keliru pun tak masalah baginya. Dia tetap
mendapatkan satu pahala. Jika benar, dua pahala didapatnya. Ini jika
seseorang memosisikan nalar akalnya sebagaimana mestinya: di bawah
wahyu.
Apabila seseorang membalik posisi nalar akalnya,
mendahulukannya di atas wahyu dan memilih mengikuti hawa nafsunya,
sungguh itu adalah pangkal kesesatannya. Sufyan bin ‘Uyainah pernah
ditanya, “Kenapa orang-orang yang menuruti hawa nafsunya itu amat
mencintai hawa nafsunya?” Sufyan menjawab, “Apakah kamu lupa dengan
firman Allah: ‘Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan
menyembah) anak sapi karena kekafirannya.’ (Al-Baqarah: 93).”
Allah
berfirman, “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah
bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa
nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.”
(Al-Qashash: 50)
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan
sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.”
(An-Najm: 23)
Ketenteraman Palsu
Oleh karena itulah
mereka cenderung untuk mendengar syair-syair dan suara-suara yang
membangkitkan cinta yang umum, bukan cinta orang-orang yang beriman.
Cinta yang sama-sama dimiliki oleh mereka yang mencintai ar-Rahman,
mereka yang mencintai berhala, mereka yang mencintai salib, mereka yang
mencintai negara, mereka yang mencintai saudara, mereka yang mencintai
sesama jenis, dan mereka yang mencintai perempuan. Mereka semua adalah
orang-orang yang mengikuti dzauq dan wajad tanpa memperhatikan al-Kitab,
as-Sunnah, dan jalan para Salaf.
Orang yang menyelisihi tata cara
ibadah kepada Allah serta tata cara taat kepada-Nya dan kepada
utusan-Nya yang diajarkan oleh Rasulullah saw sejatinya tidaklah
mengikuti agama yang disyariatkan oleh Allah. Allah berfirman,
“Kemudian
Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan
(agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa
nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali
tidak akan dapat menghindarkanmu kamu sedikit pun dari siksaan Allah.
Dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi
penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang
yang bertakwa.” (Al-Jatsiyah: 18-19)
Dalam pada itu mereka mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah. Allah berfirman,
“Apakah
mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan
untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Asy-Syura: 21)
Berusaha Lalu Bertawakal
Ada
juga orang-orang yang berpegang kepada agama: melaksanakan ibadah
fardhu dan menjauhi perkara-perkara yang diharamkan. Hanya saja mereka
keliru: mereka tidak mau melakukan usaha untuk mendapatkan sesuatu yang
sebenarnya adalah ibadah. Mereka menyangka, orang yang imannya tinggi
adalah orang yang total pasrah kepada Allah dan tidak peduli lagi dengan
berbagai usaha. Mereka beranggapan tawakal dan doa adalah derajat
orang-orang awam, bukan orang-orang khusus. Sebab, masih menurut mereka,
orang yang imannya kuat mengerti bahwa apa yang ditakdirkan oleh Allah
pasti terjadi. Karena itu tidak perlu ada usaha. Ini adalah kesalahan
besar. Sesungguhnya Allah menakdirkan berbagai perkara berikut
usaha/sebabnya sebagaimana Dia menakdirkan kebahagiaan dan kesengsaraan
berikut usaha/sebabnya.
Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya
Allah menciptakan penghuni surga, Dia menciptakan surga untuk mereka
ketika mereka masih berada di tulang sulbi nenek-moyang mereka. Mereka
akan beramal dengan amalan penghuni surga.”
Ketika Rasulullah saw
memberitahu para sahabat bahwa Allah telah menulis semua takdir mereka
berkata, “Wahai Rasulullah! Kenapa kita tidak meninggalkan amal dan
pasrah kepada tulisan itu?” Beliau bersabda, “Tidak begitu. Beramallah!
Semua orang dimudahkan untuk mengerjakan amalan (baik untuk menjadi
penghuni surga maupun neraka).”
Orang-orang yang kelak menjadi
penghuni surga dimudahkan untuk mengerjakan amalan penghuni surga.
Orang-orang yang kelak menjadi penghuni neraka dimudahkan untuk
mengerjakan amalan penghuni neraka.
Semua perintah Allah kepada
hamba-Nya untuk berusaha adalah ibadah. Tawakal diperintahkan seiring
dengan perintah untuk beribadah. Allah berfirman,
“Beribadahlah kepada Allah dan bertawakallah kepada-Nya.” (Hud: 123)
“Dia-lah
Rabb-ku tidak ada sesembahan (yang hak) selain Dia; hanya kepada-Nya
aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat.” (Ar-Ra’ad: 30)
“(Syu’aib berkata), ‘Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan kembali.” (Hud: 88)
Seorang
hamba akan selamat dari semua bencana ini jika ia senantiasa
berkomitmen dengan ajaran Allah yang disampaikan oleh Rasulullah saw.
Az-Zuhriy berkata, “Orang-orang yang telah mendahului kita berpesan,
‘Berpegang teguh kepada Sunnah adalah keselamatan.’.”
Menurut Imam
Malik, “Sunnah, ibadah, dan ketaatan itu seumpama bahtera Nabi Nuh.
Barang siapa yang menaikinya akan selamat, dan barang siapa yang tidak
menaikinya akan tenggelam.”
Wallahu a’lam
Oleh: al-Ustadz Imtihan Asy-Syafi’iy -Hafidzahullah
*Beliau adalah
mudir Ma’had Ali An-Nuur Liddirosats al-Islamiyah, Surakarta. Tulisan
ini diambil dari Blog Beliau: http://imtihansyafii.blogspot.com
Minggu, 31 Juli 2016
Akal harus tunduk kepada wahyu Allah Azza Wajalla
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar 10-12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar