KEBERKAHAN-KEBERKAHAN SYAM (SYURIAH), PALESTINA DAN SEKITARNYA
Al barakah, berarti utuhnya kebaikan dalam sesuatu obyek, disertai
mengalami pertambahan. Keberkahan, hanya diketahui muncul dari Dzat yang
memiliki dan mampu menampakkannya. Dia-lah Allah, Dzat yang menurunkan
barakah dan menetapkannya.[22]
Allah telah menetapkan keberkahan bagi wilayah Syam. Dalil tentang
penyebutan wilayah Syam sebagai bumi yang berkah banyak disebutkan dalam
al Qur`an maupun as Sunnah. Wilayah ini, sebagaimana pemetaan pada masa
lampau, meliputi Libanon, Syiria, Yordania dan Palestina.
Dahulu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjadikan
keberkahan Syam yang disebutkan oleh dalil-dalil, sebagai sarana untuk
mendorong kaum Muslimin agar tetap menghuni Damaskus, tidak lari ke
Mesir. Yaitu dengan melawan bangsa Tatar yang berusaha masuk untuk
menaklukan Damaskus.
KEBERKAHAN SYAM DALAM AL QUR`AN
Selain ayat pertama surat al Israa` di atas, tidak kurang lima ayat yang menetapkan keberkahan bagi Syam. Di antaranya:
وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami
telah memberkahinya untuk sekalian manusia”. [al Anbiyaa`/21:71]
Ibnu Katsir berkata,”Allah memberitahukan tentang Ibrahim yang
diselamatkan dari api buatan kaumnya, dan membebaskannya dari mereka
dengan berhijrah ke Negeri Syam – tanah suci”.
Allah Azza wa Jalla berfirman :
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ
الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ
“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang
tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah
memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu”. [al
Anbiyaa`/21:81].
وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا
قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ ۖ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ
وَأَيَّامًا آمِنِينَ
“Dan kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami
limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami
tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah
kamu di kota-kota itu pada malam dan siang hari dengan aman”.
[Sabaa`/34:18].
Pada penjelasan ayat telah disinggung secara sepintas tentang
keberkahan tersebut. Dan lebih lanjut, di antara keberkahan Syam juga
disebutkan dalam as Sunnah.
1. Syam Merupakan Tempat Para Nabi.
Syam menjadi tempat tinggal banyak nabi. Dari Nabi Ibrahim, yang hijrah
ke Syam, Nabi Luth, Nabi Ya’qub, Nabi Musa, Nabi Isa, dan lainnya. Dan
akhirnya, Allah menjadikannya sebagai milik umat Muhammad setelah bangsa
Yahudi menempuh jalan kesesatan.
2. Perintah Nabi Untuk Bermukim Di Syam.
Imam al Mundziri di dalam at Targhib wat Tarhib menuliskan, bab anjuran untuk bermukim di Syam, dan tentang keutamaan Syam.[23]
Dari Watsilah bin al Asqaa`, berkata: Aku mendengar Rasulullah
berkata kepada Hudzaifah bin al Yaman dan Mu’adz bin Jabal yang sedang
meminta pendapat beliau tentang tempat tinggal. Maka, beliau
mengisyaratkan ke arah Syam. Mereka berdua kembali bertanya kepada
beliau. (Dan) beliau mengisyaratkan ke arah Syam. Beliau bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالشَّامِ فَإنَّهَا صَفْوَةُ بِلَادِ اللهِ يَسْكُنُهَا خِيرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ..
“Beradalah kalian di Syam. Sesungguhnya ia merupakan negeri pilihan Allah, dihuni oleh makhluk pilihanNya” [24]
Para ulama juga telah terbiasa merekomendasi untuk bermukim di Syam,
sesuai petunjuk Rasulullah. Ketika ‘Atha al Khurasani berniat pindah
tempat tinggal, ia meminta pendapat para ulama yang ada di Mekkah,
Madinah, Kufah dan Bashrah serta Khurasan.
‘Atha al Khurasani berkata kepada para ulama tersebut : “Menurut pendapatmu, kemana saya mesti pindah dengan keluarga?”
Masing-masing menjawab: “Berangkatlah ke Syam”.
3. Malaikat Membentangkan Sayap Bagi Penduduk Syam.
Dari Zaid bin Tsabit, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
طُوبَى لِلشَّامِ فَقُلْنَا لِأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ
لِأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا
“Keberuntungan bagi penduduk Syam,” maka kami bertanya : “Karena apa,
wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Karena para malaikat membentangkan
sayap-sayapnya kepada mereka (penduduk Syam)”.[25]
4. Tempat Keberadaan Thaifah Manshurah.
لَا يَزَالُ أَهْلُ الْغَرْبِ ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ
“Penduduk Gharb (yang berada di arah Barat) akan senantiasa
menegakkan kebenaran sampai Kiamat datang”. [HR Muslim 13/68, Nawawi].
Imam Ahmad berkata,”Ahli Gharb adalah penduduk Syam.” Dan jawaban ini
disepakati oleh Ibnu Taimiyah dalam Manaqibisy-Syam wa Ahlihi, halaman
76-77.
5. ‘Asqalan, Merupakan Tempat Penjagaan Penting.
Ath Thabrani meriwayatkan dalam al Mu’jamul Kabir, dari Ibnu ‘Abbas, ia
berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أَوَّلُ هَذَا الْاَمْرِ نُبُوَّةٌ وَ رَحْمَةٌ ثُمَّ يَكُوْنُ
خِلَافَةٌ ثُمَّ يَكُوْنُ مُلْكاً وَرَحْمَةٌ ثُمَّ يَتَكَادَمُونَ
عَلَيْهِ َتكَادُمُ الْحُمُرِ. فَعَلَيْكُمْ بِالْجِهَادِ, وَإِنَّ
أَفْضَلَ جِهَادِكُمْ الرِّبَاطُ, وَإِنَّ أَفْضَلَ رِِبَاطكُمْ
عَسْقَلَانُ
“Permulaan dari perkara ini (Islam) adalah kenabian dan rahmat.
Berikutnya tegaknya khilafah dan rahmat. Selanjutnya muncul kerajaan dan
rahmat. Kemudian, orang-orang memperebutkannya, seperti kuda-kuda yang
berebut. Maka, kewajiban kalian untuk berjihad. Sesungguhnya sebaik-baik
jihad adalah ribath. Sebaik-baik tempat ribath adalah Asqalan”. [Ash
Shahihah, 3270].
‘Asqalan telah dikenal sejak dahulu. Menempati tempat strategis di
bibir pantai, ramai dengan perdagangan. Palestina tidak pernah
ditaklukkan, kecuali diawali dengan penaklukkan ‘Asqalan.
6. Cahaya Iman Memancar Dari Syam Saat Fitnah Berkecamuk.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata : Rasulullah bersabda :
إِنِّيْ رَأَيْتُ كَأَنَّ عَمُوْدَ الْكِتَابِ انْتُزِعَ مِنْ تَحْتِ
وِسَادَتِيْ, فَأَتْبَعْتُهُ بَصَرِيْ. فَإِذَاهُوَ نُورٌ سَاطِعٌ عُمِدَ
إلَى الشَّامِ ألَا وَإنَّ الْإيْمَانَ إذَا وَقَعَتْ الْفِتَنُ بِالشَّامِ
“Sesungguhnya saya melihat seakan-akan tonggak al Kitab telah
tercabut dari bawah bantalku. Maka, aku mengikutinya dengan pandanganku.
Tiba-tiba terdapat cahaya terang-benderang yang mengarah menuju Syam.
Ketahuilah, sesungguhnya iman, apabila telah terjadi beragam fitnah,
berada di Syam”. [Shahihut-Targhib wat-Tarhib, no. 3092].
Al ‘Izz bin Abdis Salam rahimahullah berkata,”Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam mengabarkan, bahwa tiang Islam, yaitu iman, pada saat
terjadinya fitnah-fitnah, berada di Syam. Artinya, apabila fitnah-fitnah
yang muncul telah mengancam agama Islam, maka penduduk Syam berlepas
diri darinya. Mereka tetap istiqamah di atas iman. Jika muncul (fitnah
yang) tidak mengancam agama, maka penduduk Syam mengamalkan konsekwensi
iman. Apakah ada sanjungan yang lebih sempurna dari itu?”
Demikianlah, keberkahan tanah Palestina dan sekitarnya. Oleh karena
itu Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali menjelaskan, bahwa kewajiban (kepada
penduduk) Syam yang telah Allah berikan karunia dengan
keutamaan-keutamaan ini, untuk melenyapkan noda-noda, kotoran-kotoran
dan kekeruhannya. Sebagai upaya persiapan menyambut cahaya Islam (yang
termuat dalam hadits-hadits) yang akan menguasai tanahnya. Meskipun
orang-orang jahat membencinya.[26]
Salman al Farisi Radhiyallahu ‘anhu berkata :
إِنَّ الْأَرْضَ لَا تُقَدِّسُ أَحَدًا وَإِنَّمَا يُقَدِّسُ الْإِنْسَانَ عَمَلُهُ
“Sesungguhnya tanah suci tidak mensucikan siapapun. Yang mensucikan manusia adalah amalannya”. [Riwayat Imam Malik, 2/796].
Washalallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘ala alihi wa ash-habihi ajma’in.
Maraji :
1. Zadul Masir fi ‘Ilmit-Tafsir, Ibnul Jauzi, Maktabatul Islami, Cetakan III, Th. 1404H-1984M.
2. Al Jami’ li Ahkamil Qur`an, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al
Qurthubi. Tahqiq Abdur Razzaq al Mahdi, Maktabah Rusyd, Cet. II, Th.
1420H-1999M.
3. Majalah Manarusy-Syam, Edisi 1, Jumadal Ula 1425H dan Terbitan Markaz
al Imam al Albani Lid-Dirasatil Manhajiyyah wal Abhats al ‘Ilmiyyah.
4. Majalah al Ashalah, Edisi 30 Th. V, 15 Syawal 1421H, Markaz al Imam
al Albani Lid Dirasatil Manhajiyyah wal Abhats al ‘Ilmiyyah.
5. Silsilatul Ahaditsish-Shahihah, Muhammad Nashiruddin al Albani Maktabah Ma’arif, Cet. Th. 1415H-1995M.
6. Jami’ul Bayan ‘an Ta`wil Ayil-Qur`an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir
ath Thabari, Darul Ihyaut Turatsil ‘Arabi. Cet. I, Th. 1421H-2001M.
7. Shahihut-Targhib wat-Tarhib, Muhammad Nashiruddin al Albani Maktabah Ma’arif Cet. I Th. 1421H-2000M
8. Taisirul Karimir Rahman Fi Tafsiri Kalamil Mannan Abdur Rahman bin
Nashir as Sa’id. Tahqiq Abdur Rahman bin Mu’alla al Luwaihiq Muassasah
Risalah Cet. I, Th. 1423H-2202M
9. Al Irsyad ila Tash-hihil I’tiqad, Dr. Shalih bin Fauzan al Fauzan Maktabah al Ilm Jedah. Cet. I, Th. 1414H.
10. Tafsirul Qur`anil ‘Azhim, Abul Fida Ibnu Katsir ad Dimasyqi, Darul Kutubil ‘Ilmiyah Cet. II, Th. 1422H-2001M.
11. Syarhul ‘Aiqdatith-Thahawiyah, Ibnu Abil ‘Izzi, takhrij Muhammad
Nashiruddin al Albani, Maktabul Islami, Cet. VIII, Th. 1404H-1984M.
Majalah As-Sunnah Edisi Khusus (7-8)/Tahun X/1427H/2006.
Senin, 01 Agustus 2016
KEBERKAHAN-KEBERKAHAN SYAM(SYURIAH), PALESTINA DAN SEKITARNYA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar 10-12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar