JANGAN MEMBAHAYAKAN DIRI SENDIRI
Dari Ibnu Abbâs radhiyallahu ’anhu. Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa
sâlläm :
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
”Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri ataupun
orang lain.”
[HR. Ahmad 1/313]
Kalau sudah tahu di satu tempat ada sumber penyakit menular, maka
jangan datang ketempat itu, karena membahayakan diri sendiri. Dan jangan
membahayakan orang lain, baik dengan perbuatan maupun kebijakan. Bila ia
seorang pengambil keputusan yang menyangkut urusan publik, maka keputusan harus
di ambil dengan mempertimbangkan keamanan orang lain'.
Dan jangan menantang taqdir. Perhatikan dialog iblis dengan Nabi Isa
'aläîhisalam yang terdapat dalam Kitab Al Adzkiyaa’ karya Al Imam Abul Faraj
Ibnul Jauzy (508-597), Mufti Agung Madzhab Hambali di masa Daulah ‘Abbasiyah.
Iblis pernah datang menemui Nabiyyullah ‘Isa ‘alaihissalam. Berkatalah
si terlaknat : “Hai putra Maryam ! Bukankah engkau yakin, bahwa segala yang tak
ditakdirkan oleh Allah, tidak akan menimpamu ?”
“Ya,”
Jawab Al Masih ‘alaihissalam.
Si iblis berkata : “Kalau begitu, coba engkau naik ke gunung ini lalu
terjun dari atas gunung ini. Kalau Allah menakdirkan selamat, pasti engkau akan
selamat.”
Dengan tenang Isa putra Maryam ‘alaihissalam menjawab : “Hai makhluq
laknat !, sesungguhnya Allah berhak menguji para hamba-Nya. Tapi seorang hamba
tidak punya hak sama sekali untuk menguji Allah !”
(Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Al Zuhd)
Menguji, yakni menguji apakah Allah menakdirkan begitu atau begini.
Jadi jangan dengan dalih mati itu takdir, sakit itu takdir, musibah itu
takdir, lantas ketika kita tahu di suatu tempat ada bahaya, kita malah
mendatanginya.
Menghindari mudharat harus di dahulukan di banding mengambil
manfaat, sebagai mana kaidah fiqih
mengatakan :
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ أَوْلَى مِنْ جَلْبِ
الْمَصَالِحِ
“Menghilangkan kemudharatan itu lebih didahulukan daripada Mengambil
sebuah kemaslahatan.”
Berusaha dahulu, barulah kemudian tawakal. Allahu 'alam.

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar 10-12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar