Aqidah dalam Islam
Kata akidah atau i’tiqod secara bahasa berasal dari kata al ‘aqdu yang artinya berputar sekitar makna kokoh, kuat, dan erat.1 Adapun secara istilah umum, kata akidah bermakna keyakinan yang kokoh akan sesuatu, tanpa ada keraguan2.
Jika keyakinan tersebut sesuai dengan realitas yang ada maka akidah
tersebut benar, namun jika tidak sesuai maka akidah tersebut bathil.3
Setiap pemeluk suatu agama memiliki suatu akidah
tertentu. Namun kebenaran akidah hanya ada dalam islam. Karena dia
bersumber dari Dzat yang Maha Mengetahui, yaitu Allah ta’ala. Sehingga karenanya tidak ada perbedaan antara akidah yang dibawa oleh para Nabi dari masa ke masa.
Adapun akidah yang bathil, mencakup semua akidah yang
bertentangan dengan wahyu. Yaitu akidah yang hanya bersumber dari akal
manusia, atau berasal dari wahyu namun dirubah dan diselewengkan.
Seperti akidahnya orang yahudi bahwa Uzair adalah anak Allah, atau
akidahnya orang Nashroni bahwa al masih adalah anak Allah, atau akidah
syiah yang berkeyakinan bahwa Allah menyesal setelah berkehendak, yang
dinamakan akidah bada’.
Dalam definisi syar’i, akidah dalam agama islam bermakna masalah masalah ilmiyah
yang berasal dari Allah dan Rosulnya, yang wajib bagi setiap muslim
untuk meyakininya sebagai pembenaran terhadap Allah dan Rosul Nya.4
Meskipun kata akidah dalam hal ini merupakan istilah baru5 yang tidak dikenal dalam Al Qur’an maupun Sunnah6,
namun para ulama menggunakan istilah ini. Yang menunjukan kebolehan
penggunaan istilah ini. Toh, tidak ada masalah dalam penggunaan istilah
jika maknanya dipahami.
Diantara para ulama yang menggunakan istilah ini adalah Imam Al Laalakaai (418 H) dalam kitabnya Syarhul ushul I’tiqod ahlu sunnah wal jama’ah, kemudian Imam As Shobuni (449 H) dalam kitabnya Aqidas Salaf Ashaabul Hadits.
Kemudian ada beberapa istilah yang semakna dengan akidah yang juga digunakan oleh para ulama, diantaranya :
Al Fiqhul Akbar
Pada awal kemunculannya kata fiqih dimaksudkan kepada
ilmu tentang agama islam secara umum, dan terkhusus ilmu berkenaan
dengan akherat, masalah masalah hati, penghancur amal dan sebagainya.7
Namun kemudian makna ini berubah menjadi ilmu tentang hukum hukum
dhohir praktis syar’I yang sekarang dikenal dengan ilmu fiqih.8
Sehingga karenanya ilmu fiqih di masa dahulu mencakup seluruh ilmu agama baik ilmu akidah yang bersifat bathin maupun ilmu hukum-hukum yang bersifat zahir. Dari sinilah kemudian muncul istilah Fiqhul Akbar yang dimaksudkan ilmu akidah. Karena ilmu akidah lebih agung dibandingkan ilmu cabang hukum-hukum zahir yang merupakan Fiqhul Ashghor.
Ulama yang pertama kali menggunakan istilah ini adalah Abu Hanifah (150 H) dalam kitabnya Al Fiqhul Akbar. Beliau berkata, “Al Fiqhul Akbar
dalam agama lebih baik dari fiqih dalam ilmu, seseorang faqih tentang
bagaimana cara beribadah kepada Rabb nya lebih baik dari mengumpulkan
seluruh ilmu”9
Al Iman
Iman secara bahasa10 bermakna At Tashdiq (pembenaran)11 dan Al Iqroor (penetapan)12. Adapun secara istilah syar’i iman adalah pembenaran dan penetapan serta ketundukan terhadap kebenaran yang berasal dari wahyu.13 Dan para ulama sepakat bahwa Iman mencakup perkataan dan perbuatan, perkataan hati dan lisan, perbuatan hati dan anggota badan.14
Istilah iman merupakan kata yang paling sering
disebutkan dalam Al Qur’an maupun sunnah. Diantara para ulama yang
menggunakan istilah ini adalah Ibnu Mandah (395 H) dalam kitabnya Kitabul Iman, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) juga dalam dua kitabnya yaitu Al Iman Ausath dan Al Imanul Kabir, kemudian juga Imam Bukhori dalam S- nya membuat bab di awal sohihnya dengan nama kitabul iman.15
As Sunnah
Kata sunnah memiliki makna yang bermacam macam tergantung disiplin ilmu masing masing16.
Dalam ilmu fiqih sunnah adalah hal hal yang jika dikerjakan mendapatkan
pahala, dan jika ditinggalkan tidak apa apa. Dalam ilmu ushul fiqih
assunnah bermakna sumber wahyu kedua setelah Al Qur’an. Dalam ilmu
hadits assunnah merupakan persamaan kata dari akidah, dan seterusnya.
Terkadang juga sunnah digunakan sebagai antitesa dari kata bid’ah. Namun
kemudian banyak ulama yang menggunakan istilah sunnah ditunjukan kepada
makna akidah dikarenakan urgensi ilmu akidah yang merupakan pokok agama
islam. Diantara para ulama yang menggunakan istilah sunnah adalah Imam
Ahlus Sunnah Ahmad bin Hambal (327 H) dalam kitabus Sunnah dan Imam Al Barbahaari (329 H) dalam kitabnya Syarhus Sunnah.
At Tauhid
Kata tauhid terdapat dalam hadits Mu’adz ketika
diutus ke yaman diatas. Diantara para ulama yang menggunakan kata ini
adalah Ibnu Khuzaimah (311 H) dalam Kitabut Tauhid Wa Itsbaatu Shifaatir Rabb ‘Azza Wa Jalla , juga Imam Al Maqriizi (845 H) dalam kitabnya Tajridut Tauhid Al Mufid, serta Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) dalam Kitabut Tauhid Alladzi Huwa Haqqullah ‘Alal ‘Abid.
Kitab kitab yang ditulis dengan istilah tauhid hanya membahas hal hal
yang berkaitan dengan tauhid dengan ketiga macamnya, yang merupakan
bagian dari ilmu akidah. Sehingga kitab kitab akidah lebih bersifat
komprehensif (syumul). Selain membahas masalah tauhid, kitab
kitab Akidah juga membahas hal hal lain seperti iman dan rukun rukunnya,
islam dan rukun rukunnya, hal hal yang bersifat ghoib, kaidah kaidah
dalam akidah yang pasti yang disepakati para ulama, wala dan baro,
bantahan terhadap aliran sesat dll.17
As syari’ah
Secara umum akidah seperti sunnah, terkadang
dimaksudkan seluruh yang disyariatkan oleh Allah kepada hambanya berupa
hukum hukum yang disampaikan oleh para nabi. Terkadang dimaksudkan hanya
masalah akidah, dan terkadang dimaksudkan masalah amaliyah fiqhiyah
saja. Dalam Al Qur’an pun makna Syariah berbeda beda, terkadang syariat
bermakna seluruh ajaran yang dibawa para nabi18, terkadang dikhususkan ajaran setiap nabi yang berbeda antara satu nabi dengan yang lainnya19, dan terkadang dikhususkan kepada kesamaan da’wah seluruh nabi yaitu tauhid.20
Adapun secara khusus makna Syari’ah adalah akidah
yang diyakini oleh ahlu sunnah wal Jama’ah. Dan ini lah yang dimaksud
oleh para ulama ketika menulis kitab kitab akidah dengan nama As
Syari’ah. Diantara ulama yang menggunakan istilah ini adalah Imam Al
Ajurri (360 H) dalam kitab beliau As Syarii’ah dan Ibnu Bathoh (387 H) dalam kitab beliau Al Ibaanah ‘Alaa Syarii’ati Firqotun Naajiyah.
Ushulud Din
Ashlu atau pokok adalah apa yang dibangun diatasnya
sesuatu. Maka ushulud din adalah sesuatu yang agama dibangun diatasnya.
Dan agama islam dibangun diatas akidah yang benar. Sehingga para ulama
menggunakan istilah ini dengan makna ilmu akidah. Dan ini yang kita
kenal dalam perguruan perguruan tinggi di timur tengah, saudi arabia
khususnya fakultas yang berkonsentrasi membahas akidah adalah fakultas
ushuluddin. Diantara ulama yang menggunakan istilah ini adalah Abu Hasan
Al Asy’ari (324 H)dalam kitab beliau Al Ibanah ‘An Ushulid Diyanah, dan Ibnu Bathoh (387 H) dalam kitabnya Asy Syarhu wal Ibanag ‘An Ushulis sunnah Wad Diyanah. Wallahu ‘Alam.
***
Catatan kaki
1 Lihat kata “عقد” dalam Mu’jam Maqoyisil Lughoh, Ibn Faris (4/86-87), Madkhol Lidiroosatil Akidah Al Islamiyah, Dr. Utsman Jum’ah Ad Dhomairiyah 9 (Maktabah As Sawaadi At Tauzi’, Cet 1; 1425 H, Jeddah) Hal. 87
2 Al Mu’jam Al Washith 2/614
3 Lihat : Ibnu Utsaimin Syarhul Akidah Wasathiyah, Hal.37 (Dar Tsuroyya Linnasyr, cet. 2 1426 H) dan Muhammad Kholil Harros, Syarhul Akidah Al Wasathiyah. Hal. 15 (Dar Imam Ahmad, cet 1, 1429 H)
4 Lihat Dr. Sulaiman Umar Al Asyqor, Akidah Fillah (Dar Nufasaa, cet 15 1423 H, Urdun) hal. 12
5 Meskipun asal katanya ada dalam Al Qur’an, seperti dalam Surat Al Ma’idah ayat 1 dan 89
6 Madkhol Lidiroosatil Akidah Al Islamiyah, hal. 63
7 Lihat : Mukhtashor Minhajil Qosidin, hal. 22
8 Madkhol Lidiroosatil Akidah Al Islamiyah, hal. 65
9 Ibid hal. 67-68
10 Hal ini akan dibahas lebih rinci dalam makalah yang lain dengan judul Hakekat Iman antara Ahlu Sunnah dan Ahlu Bid’ah dalam waktu dekat Insya Allah.
11 Lihat Fathul bari (1/46) Dr. Muhammad bin Ibrohim Al Hamd, Al Iman Haqiiqotuhu Wa Maa Yata’allaqu Bihi Minal Masaail (Dar Ibnu Khuzaimah, Hal. 14)
12 Lihat Majmu Fatawa (7/638) Syarhul Aqidah Al Washatiyah Hal. 41
13 Madkhol Lidiroosatil Akidah Al Islamiyah, hal. 70
14 Majmu Fatawa (7/308)
15 Imam bukhori membuka Shohih Bukhori nya dengan kitabul Iman dan menutupnya dengan kitabut Tauhid.
Ini menunjukan fiqih beliau dalam setiap bab yang beliau tulis. Beliau
ingin menunjukan bahwa tauhid atau iman merupakan kewajiban yang pertama
dan yang terakhir. Namun ada perbedaan antara keduanya. Kitabul iman
berisi penjelasan tentang iman, hakekat, cabang cabang cabangnya dan
kelompok yang menyimpang dalam masalah ini yaitu murji’ah. Adapun tauhid
berkenaan dengan tauhid terutama asma wa sifat serta bantahan terhadap
kelompok yang menyimpang dalam hal ini yaitu jahmiyah al mu’athilah.
16 Tentang makna sunnah lihat Al Kuliyyat (3/9-12) Madkhol Lidiroosatil Akidah Al Islamiyah, hal. 74-75
17 Lihat Dr. Muhamad bin Ibrohim Al Hamd, Rosaail Fil Akidah (Dar Ibnu Khuzaimah, Riyadh, cet 1 1432 H) Hal. 11
18 Seperti dalam Qs. Al Jatsiyah : 18
19 Seperti dalam Qs. Al Maidah : 48
20 Seperti dalam Qs. As Syuro : 13
—
Penulis: Abdullah Hazim
—
Penulis: Abdullah Hazim

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar 10-12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar