“Demi Allah, seperti inilah caraku mendidikmu.
Aku nadzarkan dirimu untuk berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin.Aku
didik engkau di atas syariat agama.Wahai anakku, jangan kau sangka,
engkau berada di sisiku itu lebih aku cintai dibanding kedekatanmu pada
agama, berkhidmat untuk Islam dan kaum muslimin walaupun kau berada di
penjuru negeri. Anakku, ridhaku kepadamu berbanding lurus dengan apa
yang kau persembahkan untuk agamamu dan kaum muslimin. Sungguh –wahai
ananda-, di hadapan Allah kelak aku tidak akan menanyakan keadaanmu,
karena aku tahu dimana dirimu dan dalam keadaan seperti apa engkau. Yang
akan kutanyakan dihadapan Allah kelak tentangmu –wahai Ahmad- sejauh
mana khidmatmu kepada agama Allah dan saudara-saudaramu kaum muslimin”.
Inilah surat yang ditulis ibu Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah kepada dirinya, setelah beliau memohon izin kepada sang
ibu untuk tetap tinggal di Mesir.
Surat ini memberikan kesan yang cukup mendalam
kepada kita tentang bagaimana sosok ibunda Ibnu Taimiyah.Wanita shalihah
yang berorientasi akhirat.Wanita kuat yang lebih senang anaknya
bermanfaat bagi orang banyak ketimbang untuk dirinya sendiri.Wanita
cerdas yang menjadikan anaknya investasi untuk kehidupan setelah
kematian.
Ibunda Ibnu Taimiyah memberikan kesan bahwa ia adalah wanita yang teguh jiwa dan hatinya. Semoga Allah merahmatinya.
sumber:
islamstory.com/ar/امهات-خالدات-في-التاريخ-الاسلامي

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar 10-12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar