MAKHLUK DICIPTAKAN SALING MENCARI YANG SESUAI DENGANNYA
Berkata Ibn Al Qayyim, ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
hikmahNya menciptakan makhlukNya dalam kondisi saling mencari yang
sesuai dengannya. Secara fitrah saling tertarik dengan jenisnya, dan
sebaliknya akan menjauh dari yang berbeda dengannya.
Rahasia adanya percampuran dan kesesuaian di alam ruh, menyebabkan
adanya keserasian serta kesamaan, sebagaimana adanya perbedaan di alam
ruh akan berakibat tidak adanya keserasian dan kesesuaian. Dengan cara
inilah tegaknya urusan manusia. Allah befirman,
:”هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا
Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia
menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. [Al A’raf :
189].
Dalam ayat ini Allah menjadikan sebab perasaan tenteram dan senang
seorang lelaki terhadap pasangannya karena berasal dari jenis dan
bentuknya. Jelaslah faktor pendorong cinta tidak bergantung dengan
kecantikan rupa. Tidak pula karena adanya kesamaan dalam tujuan dan
keinginan, ataupun kesamaan bentuk dan dalam mendapat petunjuk. Pun
demikian tidak dipungkiri, bahwa hal-hal ini merupakan salah satu
penyebab ketenangan dan timbulnya cinta.
Nabi pernah mengatakan dalam sebuah hadits.
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
Ruh-ruh itu ibarat tentara yang saling berpasangan, yang saling
mengenal sebelumnya akan menyatu dan yang saling mengingkari akan
berselisih.(Hadis Riwayat Bukhari 7/267dari hadis ‘Aisyah secara muallaq, dan Muslim (2638) dari jalan Abu Hurairah secara mausul)
Dalam Musnad Imam Ahmad diceritakan, bahwa asbabul wurud hadis ini
yaitu ketika seorang wanita penduduk Makkah yang selalu membuat orang
tertawa hijrah ke Madinah, ternyata dia tinggal dan bergaul dengan
wanita yang sifatnya sama sepertinya. Yaitu senang membuat orang
tertawa. Karena itulah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan
hadits ini.
Karena itulah syariat Allah menghukumi sesuatu menurut jenisnya.
Mustahil syariat menghukumi dua hal yang sama dengan perlakuan berbeda
atau mengumpulkan dua hal yang kontradiktif. Barang siapa yang
berpendapat lain, maka jelaslah karena minimnya ilmu pengetahuannya
terhadap syariat ini atau kurang memahami kaedah persamaan dan
sebaliknya.
Penerapan kaidah ini tidak saja berlaku di dunia. Lebih dari itu akan diterapkan pula di akhirat. Allah berfirman.
احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ
(kepada malaikat diperintahkan): “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim
beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka
sembah. [Ash Shaffat : 22].
Umar Ibn Khatab dan setelahnya Imam Ahmad pernah berkata mengenai tafsiran “azwajahum” yakni yang sesuai dan mirip dengannya.
Allah juga berfirman.
وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
dan apabila jiwa (ruh-ruh) dipertemukan. [At Takwir : 7].
Yakni setiap orang akan digiring beserta dengan orang-orang yang sama
perilakunya. Allah akan menggiring sesama orang-orang yang saling
mencintai karenaNya ke dalam surga, dan orang–orang yang saling
berkasih-kasihan di atas jalan syetan digiring ke neraka Jahim. Mau
tidak mau, maka setiap orang akan digiring dengan siapa yang
dicintainya. Di dalam Mustadrak Al Isyq Hakim disebutkan, bahwa Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tidaklah seseorang mencintai
suatu kaum, kecuali akan digiring bersama mereka kelak.(Diriwayatkan oleh Ahmad 6/145)
Rabu, 10 Agustus 2016
MAKHLUK DICIPTAKAN SALING MENCARI YANG SESUAI DENGANNYA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

“Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Infithar 10-12)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar